Cara Rasulullah Memperlakukan Istrinya


Rasullulah adalah suami yang adil terhadap istri istrinya, baik dalam urusan nafkah lahir maupun bathin. Beliau selalu mengundi istri istrinya saat hendak pergi melakukan perjalanan atau peperangan, sehingga yang keluar dalam undian tersebut akan menemaninya dalam perjalanan maupun peperangan. Lalu dalam sebuah hadist dikatakan bahwa Rasullulah tidak memberikan jatah malanya kepada seorang istrinya.

Apakah hal tersebut karena beliau tidak adil ?

Adalah Saudah bin zam’ah, istri yang dinikahi Rasulullah saat usia sudah tua dan mengalami menopause. Saudah sangat khawatir Rasullulah akan menceraikannya karena Rasululah tidak ingin mendzalimi Saudah.

Hal ini disebabkan wanita yang sudah menopause akan mengalami kesakitan saat berhubungan badan. Karena itu Saudah berpikir Rasulullah tentu tidak akan mungkin mendzaliminya dan memilih untuk menceraikannya. Kemudian ia memberikan jatah malamnya kepasa Aisyah agar ia tidak diceraikan dan tetap menjadi istri Rasullulah hingga akhir hayatnya.

Dalam sahih Bukhari dikemukaka, “Rasulullah memiliki Sembilan istri. Yang delapan mendapat jatah malam. Sedangkan yang satu tidak. Hal itu karena Saudah telah memberikan jatah malamnya kepada Aisyah.”

Dalam hadist yang diriwayatkan Anas bin Malik, “sudah menjadi bagian dari kesunahan, jika engkau menikahi perempuan yang masih perawan. Maka tinggalah bersamanya selama tujuh hari. Dan jika engkau menikahi seorang janda. Maka tinggalah bersamanya selama tiga hari.”

Rasulullah adalah pribadi yang sangat adil terhadap istri istrinya walaupun ia memiliki kecenderungan kepada Aisyah. Rasulullah bersabda, “Ya Allah, bagikanlah apa yang aku punya, dan jangan engkau caci aku atas apa yang tidak aku punya.”

Beliau adalah sosok suami yang baik hingga Aisyah berkata, “Rasulullah tidak mengutamakan sebagian istri atas sebagian yang lain dalam urusan menginap dan membagi sesuatu. Setiap hari beliau mengunjungi kami semua dan lantas bermalam di tempat salah satu istrinya yang mendapat jatah malam bersama beliau. Ketika dating perjalanan. Beliau tidak pernah mengetuk pintu rumah istri istrinya diwaktu malam. Beliau sangat melarang tindakan tersebut.”

Sumber :
- Cara Rasullah SAW memperlakukan wanita. Samiyah Manisi. Azhar Risalah : Kediri 2010